Uncategorized
Pandemi dan Lunturnya Semangat Berorganisasi

Pandemi dan Lunturnya Semangat Berorganisasi

Penulis : Rizka Abdi (sebagai Juara 3 Lomba Menulis Opini BEM FATEPA UNRAM)

Mahasiswa ideal adalah mahasiswa yang mampu menjalankan tri darma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian dan pengabdian). Mahasiswa yang bertindak sebagai agent of change. Berbekal kemampuan intelektual yang baik, mahasiswa diharapkan dapat memberi solusi bagi permasalahan kehidupan bermasyarakat dan menjadi kontributor kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara.Untuk mencapai hal tersebut, pendidikan dalam ruang kelas tidaklah cukup. Kegiatan pembelajaran dalam ruang kelas hanya memberikan pengetahuan teoritis yang bersifat hardskills dan sangat kurang dalam mengasah kemampuan soft skills mahasiswa. Dalam hal ini diperlukan peranorganisasi mahasiswa sebagai wadah untuk mengasah soft skills mahasiswa.

Kosasih (2016) menyatakan bahwa salah satu fungsi dari organisasi kemahasiswaan adalah sebagai sarana penunjang pendidikan dan sarana untuk mengembangkan kemampuan diri (soft skills). Soft skills yang dimaksud yakni berpikir kritis, kreatif, inovatif dan kepemimpinan. Dimana, kemampuan inilah yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat. Untuk itulah peranan organisasi mahasiswa dalam lingkup perguruan tinggi sangat vital.

Sebelum pandemi covid-19 terjadi, kondisi organisasi mahasiswa tak luput dari permasalahan. Mulai dari masalah pendanaan kegiatan, perizinan penggunaan fasilitas, konflik internal antar anggota sampai pada minimnya minat mahasiswa sendiri. Permasalahan inilah yang menghambat peran organisasi mahasiswa dalam prosesnya menjadi wadah pengembangan karakter dan soft skills mahasiswa.

Kondisi ini kemudian diperparah dengan pandemi covid-19 yang terjadi. Pembatasan aktivitas dan pemblokiran terhadap kegiatan mahasiswa di Hal ini berakibat buruk karena kurangnya fasilitas pendukung yang memadai. Pelaksaanaan kegiatan melalui daring seringkali mengalami gangguan teknis,kendala jaringan bagi peserta dan minimnya partisipasi, sehingga pelaksaanaan program kerja tersebut tidak optimal.Hal ini tentu memicu lunturnya semangat berorganisasi mahasiswa. lingkungan kampus secara total dapat menjadi ancaman terhadap keberlangsungan kehidupan berorganisasi mahasiswa. Sebagai bukti nyata, dapat kita temukan fakta di lingkup Universitas Mataram. Gedung PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) yang menjadi pusat kegiatan mahasiswa biasanya ramai dengan para organisatoris, padat dengan kegiatan diskusi dan rapat kepanitiaan, kini lengang begitu saja.

Selain itu, banyak program kerja organisasi yang tidak dapat disesuaikan dengan kondisi yang ada. Sebut saja UKM A (bukan nama sebenarnya) di Universitas Mataram yang setiap tahunnya mengagendakan 30 – 40/lebihkegiatan. Kini, dengan situasi yang ada, banyak program kerja yang dihapuskan atau dikonsep ulang teknis pelaksaanaanya (pelaksanaan daring). Hal ini berakibat buruk karena kurangnya fasilitas pendukung yang memadai. Pelaksaanaan kegiatan melalui daring seringkali mengalami gangguan teknis, kendala jaringan bagi peserta dan minimnya partisipasi, sehingga pelaksaanaan program kerja tersebut tidak optimal.


Hal ini tentu memicu lunturnya semangat berorganisasi mahasiswa. Minimnya pertemuan tatap muka, berdiskusi langsung atau sekadar ngopi bareng membuat anggota menjadi berjarak, organisasi seperti kehilangan esensi dan fungsinya. Organisasi seharusnya dipenuhi dengan kerja lapangan,berbaur dengan banyak karakter anggota, bergulat dengan masalah, danmengasah kemampuan problem solving. Peran tersebut saat ini menjadi sangat berkurang. Tentu saja ini menjadi masalah serius, terlebih lagi besar kemungkinan kondisi ini akan berlangsung lama.

Maka dari itu, perlu adanya perhatian serius terkait permasalahan ini. Menurut hemat saya, dengan mengikuti pedoman new normal, perlu adanya pelonggaran terhadap kegiatan organisasi mahasiswa di kampus, tentu saja dengan tetap memperhatikan protokol keselamatan. Hal ini bertujuan untuk memberi ruang bagi pengoptimalan peran organisasi dalam mencetak mahasiswa yang ideal, yakni mahasiswa yang mampu menjadi agent of change, mahasiswa yang menebar kebermanfaatan, mahasiswa pengabdi masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut perlu adanya keseriusan dari pihak mahasiswa dan birokrasi untuk bersama-sama membahas permasalahan ini, demi tercapainya tujuan dan kebaikan bersama.

Daftar Pustaka

Kosasih. 2016. Peranan Organisasi Kemahasiswaan dalam Pengembangan Civic Skills Mahasiswa. JPIS, Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial. Vol. 25 (2) : 64 – 74

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *